Posted by: franciscasri | February 4, 2010

Berangkat dari kekeliruan Langkah menuju Kebangkitan Motivasi untuk Karya yang Lebih Baik


 Syahrun Nazil*

Perencanaan merupakan bagian dari satu fungsi manajemen untuk mengatur dan mengorganisir orang atau kegiatan yang dilaksanakan. Fungsi ini mutlak ada dalam suatu organisasi formal dan non formal. Fungsi perencanaan sangat penting dalam menentukan visi dan misi kita ke depan. Perencanaan juga meliputi aspek pengembangan kita ke depan. Segala tindakan untuk tujuan masa depan memiliki hubungan erat dengan yang terjadi sekarang. Tindakan tersebut didasari oleh pemikiran prakmatis rasional untuk suatu kurun waktu tertentu (Suwardjoko, 1984). Pengertian lain dikemukakan Astuti dkk, dalam Johara (1999) sebagai berikut; (1) Perencanaan adalah pemikiran hari depan; (2) Perencanaan berarti pengelolaan; (3) Perencanaan adalah pembuatan keputusan; (4) Perencanaan adalah pembuatan keputusan yang terintegrasi; (5) Perencanaan adalah suatu prosedur formal untuk memperoleh hasil yang nyata dalam berbagai bentuk keputusan menurut sistem yang terintegrasi. Dalam kenyataannya perencanaan merupakan kegiatan yang ”tidak pernah selesai” karena selalu dilakukan peninjauan ulang atau pengkajian sebagai umpan balik untuk penilaian.

Secara umum fungsi perencanaan melekat dalam diri kita sebagai suatu yang hidup, dinamis dan berubah. Seperti halnya dibidang ekonomi dan bisnis, perencanaan pembangunan merupakan serangkaian kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat untuk menentukan langkah-langkah dan strategi dalam meningkatkan kesejahteraan.

Dalam prakteknya, perencanaan diri dibedakan menurut skala jangkauan jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Suatu perencanaan selalu berkesinambungan dan bertahap serta saling terkait satu dengan yang lainnya.

Seperti kisah saya…diawali dengan keinginan untuk menempuh pendidikan yang baik, bersih dan mengikuti peraturan dan kode Etik yang telah diterapkan. Akan tetapi perencanaan yang saya lakukan tidak ada hubungan dengan perencanaan jangka pendek dan jangka panjang akan tetapi perencanaan tersebut akan menengelamkan saya kepada keterpurukan dan menderita penyakit ”malu” hal ini dikarenakan oleh tindakan atau implementasi yang saya lakukan tidak sesuai dengan aturan yang berlaku….disamping itu ada hal yang tidak baik menurut agama dan kepercayaan yang saya anut yaitu tidak jujur dalam hal ini memudahkan suatu jalan yang jalan tersebut seharusnya tidak bisa dilaksanakan karena bertentangan dengan peraturan.

Dengan adanya kejadian tersebut alangkah menyesalnya saya…..seharusnya masih banyak perencanaan yang inovatif dan kreatif, bukan kreatif dan inovatif yang tidak mengindakahkan kaidah-kaidah dalam berproses dalam hal ini berproses dalam menimba ilmu dan mendapatkan hasil.

Kejadian tersebut membuat saya harus bangun dan berpikir kearah yang lebih baik, tentunya saya harus menyelesaikan proses pendidikan ini dengan secepat-cepatnya (perencanaan jangka pendek).

Untuk menerapkan ilmu yang telah diperoleh tentunya harus ada skala ukur bahwa kita berhasil dalam menerapkan ilmu tersebut….saya memulai berkarir sebagai sebagai tenaga dosen disebuah yayasan pendidikan kesehatan (STIKes) di Serang Propinsi Banten. akan tetapi berkecamuk kembali pikiran saya… apakah saya sudah siap mengajar atau seharusnya menambah pengalaman sehingga suatu waktu nanti ilmu yang saya berikan akan dapat saya contohkan kepada orang lain…..

Berangkat dari refleksi ini, saya menimba pengalaman dengan  bergiat dan terjun melalui suatu program pemberdayaan masyarakat dan pemerintah daerah pada tahun 2006, yaitu program Percepatan Daerah Tertinggal dan Khusus, yang kemudian disingkat menjadi P2DTK atau dengan sebutan lainnya Support for Poor and Disadvantaged Areas (SPADA),

Lahirnya  program ini lahir ini sebagai upaya kongkrit pemerintah untuk melakukan percepatan pembangunan di daerah sebagai daerah bencana, konflik, dan tertinggal. Karena kekhususan inilah maka diperlukan pembangunan yang sifatnya dapat mempercepat terkikisnya kekhususan wilayah tersebut yang kondisi social, ekonomi, keuangan daerah, aksesbilitas, serta ketersediaan infrastruktur dipandang masih tertinggal, program ini yang di danai oleh world bank (Multi Donor Fund).

Program P2DTK di luncurkan di 8 propinsi di Indonesia termasuk Propinsi Aceh mencakup 17 kabupaten serta dibagi menjadi 4 regional. (1) Regional Tengah meliputi Kabupaten Aceh Besar, Kabupaten Pidie, Kabupaten Bireuen. (2) Regional Utara terdiri dari Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Aceh Utara, dan Kabupaten Aceh Timur, serta Kabupaten Aceh Tamiang. (3) Regional Tengah terdiri dari Kabupaten Gayo lues, Kabupaten Aceh Tenggara, Aceh Singkil, (4) Regional Barat terdiri dari Kabupaten Aceh Jaya, Kabupaten Aceh Barat, Kabupaten Nagan Raya, dan Kabupaten Aceh Barat, serta Kabupaten Aceh Selatan.

Alasan dalam menentukan wilayah ini dikarenakan kondisi daerah terdapat pada daerah-daerah yang secara geografis terisolir dan terpencil seperti daerah perbatasan antar Negara, pulau-pulau kecil, pedalaman, serta rawan bencana alam dan bencana social. Oleh karena itu,pembangunan untuk daerah tersebut tidak hanya meliputi pembangunan berdimensi ekonomi, tetapi juga dimensi social, budaya dan keamanan. Mengingat perbedaan antar dimensi ini kadang sangat lebar dan bahkan bertolak belakang satu dengan yang lain maka pembangunan berbagai dimensi ini sekaligus membutuhkan pendekatan yang multidipsipliner ilmu pula. Salah satunya pendekatan multidipliner ilmu tersebutnya adalah tenaga-tenaga kesehatan yang terampil dan ulet (Keparawatan, kesehatan masyarakat, kedokteran dan lain-lain) dalam membenahi masalah tersebut.

Saya berpikir mungkin ini caranya yang baik saya mendapatkan pengalaman dan mungkin sedikit membantu daerah akibat akses konflik dan musibah gempa dan stunami.

Setelah ditetapkan dan dibekali dengan pelatihan-pelahitan yang sifat pengembangan kapasitas diri dengan berbagai metode termasuk metode yang pernah di ajarkan melalui (pendidikan dalam keperawatan) rupanya bermanfaat dalam hal memfasilitasi.

Setelah dilakukan mobilisasi kedaerah dalam hal ini kabupaten, saya ditempatkan disalah satu regional Barat sebagai Koordinator konsultan majamen bidang kesehatan yang ditempatkan di Kabuapetn Aceh Jaya, Kabupaten ini memilki cerita yang tersendiri dikarenakan sewaktu daerah ini dalam status konflik banyak terjadi pelanggaran HAM yang menyebabkan beberapa masyarakat yang mengalami gangguan fisik dan fisikis.

Sewaktu gempa dan stunami menerjang Kabupaten Aceh Jaya ini cukup parah serta mengalami kerusan infrastruktur paling berat , Secara geografis, ibukota Kabupaten Aceh Jaya, Calang, merupakan tanjung yang diapit oleh empat pantai. 2004 Indian Ocean Earthquake yang melanda Aceh dan Nias, merupakan gempa terbesar sepanjang 40 tahun di kawasan Samudera Indonesia. Pusat gempa berada di 150 km sebelah Selatan Meulaboh dan berasal dari sebuah titik yang relatif dangkal yaitu sekitar 30 km di dalam Samudera Indonesia. Empatpuluh lima menit kemudian, gelombang tsunami melanda Propinsi Aceh, menyapu bersih daerah pesisir Barat dan Timur sepanjang 800 km dengan total luas kerusakan mencapai 12.345 km². Tak pelak, Kabupaten Aceh Jaya, bersama dengan Kota Banda Aceh, Kabupaten Aceh Besar dan Aceh Barat merupakan daerah terparah yang terkena dampak tsunami. diseluruh Propinsi Aceh baik fasilitas pemerintah dan perumahan penduduk, dan kehilangan jumlah penduduk lebih dari setegah populasi yang ada di aceh jaya (data statistik propinsi Aceh).

Ada kutipan pembicaraan Saya dengan  salah satu mantan Bupati Aceh Jaya sewaktu pertama kali saya menginjakkan kaki di kabupaten aceh jaya ” “Sudah habis air mata saya. Istri dan empat anak saya raib, hanya putra tertua yang selamat. Kota ini, pada hari keempat setelah tsunami menerjang, bagaikan kiamat panjang. Rumah, kantor, gedung, semua menjelma menjadi padang rata. Warga yang selamat berlindung di bukit-bukit, di pinggir hutan. Suara angin dan ombak terdengar seperti ratapan kematian. Semua tumpas. Tidak ada yang bisa saya kenali dari kota ini.” Setiap kali wajah istri dan anaknya berkelebat, jantungnya seperti terendam garam. Betapapun, dia aparat negara. “Saya lalu teringat pemerintahan, walaupun darurat, harus bergerak,” ujarnya. Mulailah dia bekerja. Persoalan pertama, tak ada air minum, apalagi makanan. Hanya ada buah kelapa dari pohon-pohon yang tumbang. Warga pun minum dan makan kelapa. Ada yang tak tahan lapar. Perut mereka sakit mengunyah beras mentah dari karung basah”.

Dari cerita diatas tidak terbayangkan oleh saya bahwa waktu itu sangatlah dahsyatnya musibah gempa dan stunami menerjang Bumi Serambi Mekah, saya mereflesikan kembali ingatan saya, tepatnya pada tanggal 26 bulan desember tahun 2004, saya sedang menjalani pendidikan (profesi), saya mengenang kembali hal yang juga menimpa saya, sewaktu itu saya juga harus kehilangan keluarga (kakak, adik-adikku serta keponakanku). Cukup lama saya baru bisa masuk kedalam fase menerima kehilangan ini. Setelah saya melihat seorang bapak dan seorang mantan bupati tentunya dia lebih berat menerima cobaan ini, akan tetapi dia dengan tekat dan niat tetap memberikan yang terbaik untuk masyarakatnya…….

Sedangkan saya belum berbuat apa-apa terhadap orang lain, inilah yang membuat motivasi saya lebih kuat lagi dalam belajar mencari pengalaman yang mengedepankan perencanaan yang matang.  

Keseharian saya dalam hal menjalankan mekanisme program P2DTK ini selalu berkecimpung dan berintraksi dengan pemerintahan daerah dalam hal ini badan perencanaan daerah (Bappeda), dinas kesehatan kabupaten serta lintas sektor baik dinas pekerjaan umum dan dinas pendidikan ataupun masyarakat selain bertugas memfasilitasi daerah ini, tetap juga bertugas sebagai koordinator Konsultan Kesehatan untuk memberikan masukan-masukan kepada rekan-rekan di daerah lain dalam hal kajian teknis kabupaten sehingga akan menghasilkan perencanaan yang partisipatif.

Saya baru menyadari bahwa berurusan dengan tata aturan yang sudah baik yang menjadi pengangan pemerintah bisa bertolak belakang dengan perencanaan yang tidak matang, banyak hal-hal yang saya dapatkan menjadi hal yang tidak masuk akal, hal ini bisa dilihat dari anggaran yang dialokasikan melalui APBD lebih dari 60% adalah untuk kebutuhan aparatur pemerintah,  yang dimanfaatkan untuk kebutuhan publik hanya 40%.

Dan masih banyaknya praktek-praktek yang keluar dari peraturan yang telah ditetapkan, salah satunya adalah penerapan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan/Jasa Pemerintah.

Akan tetapi saya tetap menjalankan fungsi dan tugas sebagai fasilitator di kabupaten, pada suatu saat nanti perencanaan alokasi anggaran tersebut akan terbalik pengunaannya, 60% untuk kebutuhan publik dan 40% untuk belanja aparatur dan pelaksanaan Pengadaan/Jasa Pemerintah akan mengikuti teknis yang telah diatur.

Konsultan manajemen bidang kesehatan harus mempunyai rasa percaya diri-kerelaan berbagi peran untuk mampu mandiri dalam merencanakan-melaksanakan dan mengawasi pembangunan di daerahnya binaanya. Hal ini didasarkan karena penekanan program adalah capacity building bagi para pelaku program. Disinilah kemudian kita akan menyebutnya bahwa program sebagai sebuah Program Pemberdayaan P-K-L (Pemerintah Pemerintah Daerah -Komunitas dan Masyarakat-Lembaga Sosial Kemasyarakatan) hal ini jelas suatu saat pemerintah dapat memberikan pelayanan yang baik kepada publik, komuniatas masyarakat tidak lagi menuntut semua kebutuhan akan tergantung kapada pemerintah, masyarakat akan bisa mandiri baik dari sisi kesehatan dan pendidikan.

Saya berkecimpung terus dalam mengenali permasalahan mulai dari desa-kecamatan sampai usulan-usalan tersebut masuk kedalam proses perencanaan yang baik yang melalui pendekatan kajian teknis dikabupaten dengan menerapkan skala prioritas di kabupaten.

Pada tahun 2008 setelah saya mengabdikan diri di program tersebut, saya berpikir bagaimana caranya supaya mimpi saya yang diatas tersebut dapat menjadi kenyataan, tentunya ada wadah yang dapat membuat hal tersebut menjadi nyata.

Dalam pikiran saya siapkah daerah menerima tanggung jawab yang baru dalam memberikan layanan kepada masyarakat sebagaimana dimaksud dalam desentralisasi dan otonomi daerah? Sudahkah daerah dapat mengelola sumberdaya yang tersedia secara efektif, efisien, transparan, akuntabel, dsb? Serta siapkah daerah menyesuaikan dan mengantisipasi perubahan-perubahan selanjutnya – misalnya dengan adanya globalisasi, kemajuan teknologi, demokratisasi, dsb.

Pertanyaan-pertanyaan ini akan bergulir terus dari waktu ke waktu karena memang lingkungan kita selalu berubah dalam hal ilmu pengetahuan, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Misalnya, terakhir terdapat perubahan kerangka hukum yang mendasar dalam konteks desentralisasi. Sedangkan daerah baru bangun setelah dinina bobokkan selama bertahun-tahun akibat konflik dan musibah gempa stunami.

Saya berpikir bahwa perencanaan partisipatif telah banyak program yang digelontorkan kepada masyarkat sehingga dapat menerima manfaatnya serta proses perencanaan tersebut melibatkan isue gender. Akan tetapi siapa yang menegahi masalah yang berhubungan dengan pengambil kebijakan dalam hal ini pemerintahan (Aparaturnya).

Dalam rangka mendukung proses perdamaian di Aceh, Uni Eropa memberikan bantuan teknis dan dukungan program yang diberi nama Dukungan Program Aceh Damai (Aceh Peace Process Support – APPS). Saya membaranikan diri melamar perkerjaan tersebut bila dilihat dari keilmuan saya tidak berlatang belakang dari ilmu pemerintahan atau sosial politik, ditambah lagi kekurang saya adalah dari ”segi bahasa (inggris) yang masih kacau balau”, akan tetapi dengan tekat dan niat serta pengalaman dalam hal ini pernah terlibat dengan pemerintah daerah maka saya di kontrak dengan (surat perjanjian kerja).

Program tersebut bertujuan dalam dukungan untuk penyelenggaraan dan  penguatan kapasitas Pemerintahan Aceh dan kabupaten/kota. Untuk komponen program penguatan kapasitas Pemerintahan Aceh dan kabupaten/kota diimplementasikan oleh Deutsche Gesellschaft für Technische Zusammenarbeit (GTZ) dengan nama program Aceh Local Governance Program (ALGAP) dan program Aceh Governance Stabilization Initiative (AGSI). Sehingga dukungan penguatan kapasitas Pemerintahan Aceh dan kabupaten/kota akan mendapatkan bantuan teknis dalam memberikan sumbangan untuk menjaga kestabilan dan keberlanjutan pemerintahan pasca konflik di Aceh.

Posisi saya di program ini menjadi Facilitator dalam hal pengembangan kapasitas pemerintah yang ditempatkan di  Cluster Lhokseumawe yang terdiri dari 8 kabupaten/Kota (Aceh Tengah, Bener Meriah, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Langsa serta Aceh Tamiang), program penguatan anggota dewan (legislasi, anggaran dan pengawasan), memfasilitasi dinas kesehatan, pendidikan, pekerjaan umum dan Bappeda Kabupaten/Kota dalam menyusun Rencana Stategis Dinas (Renstra), mendampingi pemerintah dalam melakukan Pengkajian Kebutuhan Pengembangan Kapasitas atau Capacity Building Need Assessment (CBNA) dan menyusun Rencana Tindak Pengembangan Kapasitas atau Capacity Building Action Plan (CBAP).

Berangkat dari kekeliruan yang telah saya alami inilah, saya harus memiliki keyakinan untuk berkembangan untuk memperbaiki nilai yang menjadi pedoman pengalaman yang sudah saya dapatkan ini. Pengalaman ini juga merupakan terapan dari ilmu keperawatan komunitas yang merupakan gabungan ketrampilan ilmu keperawatan dan dianalisis dengan metodelogi Gap Analisis yang baik.

Ilmu Keperawatan merupakan sebuah pengetahuan tentang sebab akibat atau asal usul yang memiliki ciri adanya suatu metedologi yang harus dicapai secara  logis dan koheren, memiliki hubungan dengan tanggung jawab ilmuwan, bersifat universal, memiliki objektivitas tanpa disisipi oleh prasangka-prasangka subjektif, dapat dikomunikasikan, kritis dimana tidak ada teori ilmiah yang definitif, terbuka bagi peninjauan krotis dan berguna sebagai wujud hubungannya antara teori dan praktek.

Intinya pengalaman masa lalu saya, harus diubah dengan perencanaan yang matang, tahap demi tahap sehingga akan mendapatkan hasil pengembangan diri menjadi kenyataan. Rekomendasi perkembangan diri adalah melalui proses pendidikan formal diteruskan ke dunia lapangan pekerjaan. Proses pendidikan formal dan non formal inilah yang menempa kita untuk berkembang dan matang dalam mendapatkan ilmu yang berguna untuk orang lain.

Pengalaman tersebut seharusnya berbarengan dengan hal-hal yang lain…..contoh keluarga….saya harus berani meninggalkan istri dan anak setelah ada komitmen antara kami sehingga saya bisa berlajar dan mengembangkan diri…..kebetulan istri saya merupakan seorang istri yang berpendidikan sama dengan saya (Ners) sehingga mudah memahami keinginan saya..

* Alumni Prodi Keperawatan Unpad,    bekerja di  GTZ IS ALGAP/AGSI (Aceh Local Governance Program and  Aceh Governance Stabilization Initiative)  sebagai Koordinator Facilitator Cluster di Propinsi Aceh


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: